Waktu, waktu yang mempertemukan kita, berawal dari sapa-menyapa di satu meja yang sama dan kursi yang berbeda, di kelas yang tidak terlalu besar yang didalamnya juga terdapat beberapa orang yang saling berkenalan. Kita duduk bersampingan dengan tujuan yang sama yaitu mencari ilmu. Kita berbincang ketika tak ada guru yang masuk pada saat jam pelajaran itu, kita saling menceritakan diri masing masing, ternyata kita mempunyai banyak perbedaan.
Hari kedua bertemu denganmu di satu meja yang sama dan kursi yang berbeda pula, kita berbincang banyak hari ini daripada hari kemarin. Pada waktu istirahat, kita berjalan berdua mengelilingi sekolah dari sudut ke sudut, mencari tahu dimana letak kantin sekolah yang ternyata tidak terlalu jauh dari kelas kita. Dikantin banyak menu makanan yang disediakan sampai kita harus bingung memilih menu makanan apa hari ini. Di hari selanjutnya juga begitu, dan kita semakin dekat dari hari ke hari.
Waktu yang akhirnya membuatku untuk dekat dan bersahabat denganmu, dan kamu yang akhirnya membuatku sedikit lebih berani menjalani hidup. Berkenalan dengan cewek pemberani, tomboy, dan mungil seperti mu adalah satu anugerah yang pernah Tuhan berikan kepadaku. Aku adalah cewek pemalu, pendiam, dan sederhana yang tidak bisa bergaul sangat beruntung mengenalmu. Kita Berbeda Tetapi Dalam Satu Jiwa Yang Sama, itulah SAHABAT.
Persahabatan memang sesuau yang indah yang bahkan sulit untuk dideskripsikan bagaimana rasanya. Bersahabat dapat meringankan beban, karena didalam persahabatan tidak ada perhitungan, didalam persahabatan bisa saling mencurahkan masalah apa yang terjadi, dan didalam persahabatan bisa saling menyelesaiakan masalah apapun.
Lagi lagi waktu bermain peran sebagai penentu bahwa kita akhirnya akan berpisah, aku menempuh pendidikan selanjutnya di sebuah kampus ternama di Padangsidimpuan, dan kau mencari pekerjaan untuk mengisi waktu mu. Setelah aku sibuk dengan dunia kampus ku, dan kau sibuk dengan dunia pekerjaanmu kita tak saling berbincang lagi. Untuk bertemu pun kita harus membuat agenda masing-masing. Sampai pada akhirnya aku membenci waktu, aku membenci waktu karena dia telah menjauhkan ku dari sahabat ku, dia membuat kita jadi renggang, untuk bertemu dan berbincang 5 menit saja pun sulit.
Saat semua harapanku dan harapanmu telah sama, agar kita bisa bertemu kembali dan menghabiskan waktu bersama lagi tetapi prinsip waktu berkata lain. Waktu kita telah berakhir . tidak ada jalan lagi selain menunggu sang waktu berbaik hati untuk mempertemukan kita lagi.
Dunia ku sepi, tidak ada cewek pemberani lagi, tidak ada cewek tomboy yang ku kenal lagi. Dan aku kembali seperti diriku lagi pemalu, pendiam, dan di kampus pu aku tidak memiliki banyak teman.
Aku selalu berdoa dan berharap pada sang pemilik waktu agar mempertemukan kita kembali
Periksalah kembali persahabatan yang pernah anda rajut, pastikan kalian mempunyai prinsip yang sama agar tidak terpisahkan
Editor : Adelisna Zen