مِنْ أَغْنِيَائِنَا فَجَعَلَهَا فِي فُقَرَائِنَا
“dari orang-orang kaya diantara kami kemudian membagikannya kepada para fakir miskin” (HR. Tirmidzi)
Sehingga tidak ada kesan yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Tapi adanya semangat untuk saling menutupi satu sama lainnya. Orang kaya perlu orang miskin, karena doa orang-orang miskin ini mungkin lebih didengar Allah subhanahu wa ta’ala. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:
هَلْ تُنْصَرُونَ وَتُرْزَقُونَ إِلَّا بِضُعَفَائِكُمْ
“Tidaklah kalian ditolong dan diberi rezeki melainkan karena adanya (do’a) orang-orang yang lemah (diantara) kalian” (HR. Bukhari)
Ketika kita bersedekah, nominalnya memang berkurang. Akan tetapi keberkahannya bertambah. Maka dari itu Nabi mengatakan:
مَا نَقَصَ مَالُ عَبْدٍ مِنْ صَدَقَةٍ
“Tidaklah harta seorang berkurang karena sedekah” (HR. Tirmidzi)
Kalau kita lihat dari sisi nominalnya, pasti berkurang. Akan tetapi kita lihat ini dari sudut pandang yang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu melihat banyak perkara itu dari berbagai sudut pandang. Misalnya Nabi memandang bertambahnya harta dengan sedekah. Ini sesuatu yang yang kita katakan bertentangan dengan hakikat dan kenyataannya. Orang yang bersedekah pasti berkurang hartanya. Harta yang dikeluarganya ini mungkin menjadi berkah. Berubah bentuknya menjadi bentuk rezeki-rezeki yang lain. Allah ganti itu dengan bentuk rezeki yang lain. Bisa berupa kesehatan, keselamatan yang juga merupakan rezeki yang terkadang kita tidak memandangnya sebagai sebuah rezeki dari Allah.
Terimakasih sudah mampir
#KKLDR
#KKLIAINPSP
Bagus ukhteaa sangat Mudah di Pahami
BalasHapusMakacih
HapusMangat lisna
BalasHapusCemungut juga buat pukli
HapusMantap
BalasHapusMakacih
HapusMajo trossss pantang pamit
BalasHapusThanks bi
Hapus